Berdamai Dengan Ego (summit apa enggak ya?)

Pada suatu hari, ada hal yang membuat perbincangan antara saya dengan Janatan Ginting, salah satu pendaki Indonesia yang berhasil menginjakkan kakinya di Gunung Everest, gunung tertinggi di Dunia, yang menjadi salah satu impian banyak pendaki Indonesia untuk menginjakkan kaki dan menyentuh puncak disana. Perbincangan ini sebenarnya simple, dimana kami masih dalam pendakian, ketika sedang istirahat dan kelelahan, Saya memberanikan diri untuk bertanya dengan wajah tanpa dosa.

“Summit itu penting nggak sih?”
 “Tergantung niat awalnya mang..”. Jawaban singkat Janatan Ginting.


Dari perbincangan itu, mulailah pendakian lagi sambil kami berbincang singkat tentang iklim dan cuaca yang menjadi penghalang pendakian, kesiapan mental mendaki, olah raga sebelum pendakian, pemanasan, sampai ke bertahan di cuaca Ekstrim. Jujur saja, saya hanya pembuat konten yang mungkin baru-baru ini jadi ketagihan naik gunung. Tapi diiringi dengan jatuh cintanya ke Alam ini. Jadi wajar saja ada beberapa pertanyaan bodoh yang dilontarkan di saat pendakian..

Pelajaran dari perbincangan ini adalah niat dari pendakian itu sebenarnya harus ditetapkan dari awal. Apakah kita ingin capai puncak? Atau hanya sampai camping ground? Itu tergantung keputusan Areingers. Yang pasti, semuanya harus dilakukan dengan kesiapan, dan perlengkapan yang baik. Dengan begitu, kita semua bisa menjadikan tujuan naik gunung ini lebih jelas.

Saya, sebagai penikmat alam yang sedang bertambah rasa cintanya terhadap alam, merasa Summit itu bukan tujuan utama, saya merasa pendakian itu penuh dengan cerita, penuh dengan tawa, dan pencarian ketenangan. Jadi untuk saya, Summit itu tidak menjadi hal utama dalam daftar pendakian saya. Kalau Areingers gimana? Apakah summit adalah hal yang utama yang Areingers kejar selama mendaki? Atau hanya bonus?