LANGKAH MUDAH TRAVELING DENGAN ZERO WASTE!

Percaya tidak, kalau sebenarnya kegiatan traveling mempunyai dampak besar bagi alam bebas ini. Salah satu bukti nyatanya adalah naiknya angka turisme sebesar 3,9% di tahun 2018 yang lalu – bersamaan dengan naiknya emisi gas karbon sebesar 8% yang berpengaruh terhadap global warming.

Membingungkan memang. Traveling memang menawarkan banyak hal positif terhadap para petualang dan pendapatan penduduk sekitar. Hal positif tersebut seperti memperbaiki kesehatan mental dan mengurangi tekanan atau stress. Akan tetapi ternyata traveling juga bisa merusak alam bebas.

Masih ingat kasus di mana beberapa gunung di Indonesia – tepatnya di Pulau Jawa yang ditutup sementara dari kegiatan traveling karena mesti memperbaiki ekosistem serta pembersihan dari sampah-sampah para petualang yang terlihat ‘sengaja’ ditinggal?

Gunung Semeru, Gunung Rinjani di Lombok – dan beberapa gunung serta spot lainnya seperti Ranu Kumbolo – pernah terpotret memiliki sampah yang menggunung. Memang menyedihkan, sayangnya hal ini nyata sebenarnya.

Lebih buruknya lagi – hal menyedihkan itu tidak hanya berpengaruh terhadap spot petualangannya saja, tetapi juga kepada ekosistemnya. Seperti diketahui beberapa waktu terakhir ditemukannya seekor ikan paus mati terdampar. Setelah dibedah, ternyata di dalam perut ikan paus tersebut ditemukan berbagai sampah plastik sampai berkilo-kilo.

Atau – yang kemarin sempat viral juga – temuan kura-kura atau penyu yang tempurungnya tumbuh tidak semestinya karena terjepit plastik minuman kemasan. Penggunaan plastik yang masih masif di kalangan petualang memang benar-benar jadi momok besar bagi alam bebas serta ekosistemnya.

Tidak di daratan atau di lautan – temuan sampah plastik masih benar-benar mengkhawatirkan. Oleh karena itu, sepertinya memang mesti berkaca terlebih dahulu. Apa yang masih salah dan masih terus dilakukan ya?

Usut punya usut – ternyata memang ada hal yang mesti diperbaiki dari cara Areingers dan para petualang lainnya melakukan traveling. Hal ini diungkapkan di sebuah mini analisis yang dimuat di situs Mashable.

Dari ulasan yang dimuat di sana – setidaknya ada empat cara memperbaiki cara traveling Areingers agar mengurangi dampak yang diterima oleh mother of nature. Setidaknya, empat cara ini bisa membuat berbagai spot petualangan yang luar biasa indah bertahan lama – sampai ke generasi berikutnya.

 

Transportasi Menyumbang Emisi Gas yang Cukup Besar

Sepertinya, jika memang tidak terlalu jauh-jauh sekali spot petualangan yang akan Areingers datangi – tidak perlu lah sampai menggunakan pesawat terbang. Nah, cukup membingungkan memang kalimat pertama barusan.

Tapi sebenarnya begini – seperti yang sudah disebutkan di atas kalau transportasi adalah salah satu faktor penyumbang emisi gas yang cukup besar. Salah satunya pesawat terbang. Oleh karena itu – kalau memang masih bisa menggunakan mobil – kereta api atau kapal laut, mengapa tidak?

 Memang sih waktu perjalanan akan menjadi lebih lama – tapi siapa tahu dari hal ini – Areingers akan mendapatkan pengalaman traveling yang lebih seru daripada Areingers mesti menyingkat waktu dengan menggunakan pesawat terbang.

Atau ingin mencoba traveling dengan gaya baru? Mungkin menggunakan sepeda – atau bahkan papan skateboard? Kalau memang bisa – mengapa tidak? Jika belum pernah ada yang menggunakan transportasi ramah lingkungan dan Areingers menggunakannya, Areingers bisa jadi pionirnya nih!

 

Kurangi Produksi Sampah yang Tidak Daur Ulang

PLASTIK. Ini akan jadi sampah yang sulit sekali didaur ulang. Perlu Areingers ketahui bro kalau sampah plastik adalah jenis sampah yang paling lama terurainya. Terlebih jika Areingers tinggalkan begitu saja di alam bebas, dikhawatirkan ada kasus-kasus seperti paus mati di pinggir pantai atau ada kura-kura yang tempurungnya tidak tumbuh semestinya.

Oleh karena itu, mari kurangi penggunaan plastik dalam traveling lo. Gunakan bahan-bahan yang mudah terurai jika pasti jadi sampah. Seperti dalam hal membungkus makanan. Akhir-akhir ini ada kabar baik dari media sosial yang tengah gempar sosialisasi daun pisang sebagai pengganti plastik untuk membungkus makanan.

Ini bisa diterapkan dalam traveling lo, bro. Jadi Areingers akan ambil andil dalam mengurangi dampak buruk bagi alam bebas ketika traveling. Kemudian, sekarang ini sudah cukup ketat para pengelola spot petualangan yang tidak akan bosan atau bahkan keras terhadap para petualang untuk mengingatkan membawa sampah mereka kembali ke tempat awal atau pembuangan seharusnya.

 

Simpan Energi di Perjalanan Lo

Menginap di hotel, menginap di homestay, menginap di cottage atau di manapun – mesti Areingers ingat Areingers perlu menghemat energi. Biasanya, jika Areingers menginap di hotel – Areingers akan seenaknya saja menyalakan lampu atau pendingin ruangan – walau kamarnya tidak tengah Areingers gunakan.

Asumsinya biar cepat dingin atau tetap dingin selama Areingers pergi – sayangnya hal ini akan membuat global warming semakin parah. Oleh karena itu, jika Areingers seperti ini – perbaiki ya bro. Areingers bisa menghemat energi untuk masa depan.

 

Tidak Semua Bisa Dibilang Oleh-Oleh

Terumbu karang, koral atau bintang laut – bulu burung merak atau gigi serta telur binatang yang Areingers temukan di alam bebas – BUKAN SAMA SEKALI OLEH-OLEH. Jadi tidak bisa Areingers bawa seenaknya saja ya. Hal tersebut bukan perbuatan terpuji bro.

Oleh karena itu – jika memang ingin membawa oleh-oleh sebagai kenang-kenangan traveling, sila beli yang ada di toko cinderamata saja ya. Jangan mengambil apapun di alam liar untuk Areingers jadikan oleh-oleh! Sudah jelas hal tersebut bisa merusak ekosistem yang ada.

 

Sumber