Mengetahui 5 Hal Menarik dari Himbauan Tidak Bawa Plastik Sekali Pakai ke Everest

Menjadi gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest adalah salah satu gunung yang menjadi target pendakian banyak traveller. Tidak heran jika basecamp Gunung Everest terlihat selalu saja ada pendaki yang ingin sampai ke puncak tinggi tersebut.

Namun sayangnya, dengan bertahannya tren masih banyak petualang atau traveller yang ingin mendaki Gunung Everest, gunung ini pun terancam kelestariannya. Hal ini mengacu kepada temuan banyak sampah, terutama sampah plastik di banyak titik pendakian.

Tidak hanya di basecamp saja – tapi di beberapa titik dalam jalur pendakiannya, sampah plastik banyak ditemukan. Hal ini akhirnya mengerucut kepada himbauan atau larangan kepada para traveller yang ingin mendaki Gunung Everest untuk membawa plastik sekali pakai.

Larangan ini tentu ditujukan untuk mengurangi volume limbah yang ditinggalkan oleh para pendaki ataupun turis. Sampai pertengahan tahun 2019 ini – pemerintah setempat yang mempunyai inisiatif untuk membersihkan Gunung Everest – sudah mengumpulkan kurang lebih 10 ton sampah.

Hasil bersih-bersih ini tentu makin menguatkan himbauan atau larangan tersebut. Menurut rencana – larangan atau himbauan ini akan benar-benar resmi berlaku pada Januari 2020. Tempat di mana larangan ini aktif akan dimulai dari pedesaan Khumbu Pasang Lhamu, rumah bagi Gunung Everest dan beberapa gunung bersalju lainnya.

Nah, buat Areingers yang punya rencana untuk mendaki gunung tertinggi di dunia ini – ada baiknya Areingers memerhatikan hal-hal seperti ini sehingga kelestarian Gunung Everest tetap terjaga, bro! Terkait dengan himbauan atau larangan ini, setidaknya ada lima hal yang mesti Areingers ketahui.

 

Larangan Sampah Plastik di Everest: Didatangi 50 Ribu Wisatawan!

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kalau pemerintah setempat bahkan menemukan kurang lebih 10 ton sampah dalam waktu setengah tahun saja dalam program bersih-bersih mereka. Pertanyaannya adalah, dari mana sampah ini berasal?

Percaya atau tidak yang jelas sampah ini berasal dari para pendaki, traveller sampai turis yang datang ke Gunung Everest. Sampai sebanyak itu? Benar bro – hal ini mengacu kepada data yang menyatakan setidaknya ada 50 ribu lebih para pendaki, traveller atau turis yang datang ke sana.

Jika yang datang terus konsisten dalam jumlah tersebut, dipredikasi Gunung Everest tidak akan selestari sebelum-sebelumnya. Hal ini tentu mengacu juga kepada lingkungan yang sedikit demi sedikit berubah karena sampah plastik tersebut.

Oleh karena itu, mesti banyak pihak yang terkait untuk melestarikan Gunung Everest dari mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab dengan sampah plastiknya.

 

Larangan Sampah Plastik di Everest: Belum Ada Penalti

Terkait dengan menumpuknya sampah terutama sampah plastik yang ada di Gunung Everest, badan lokal terus bekerja sama dengan perusahaan pendakian, maskapai penerbangan, sampai Asosiasi Pendaki Gunung Nepal untuk menyebarluaskan sampai menegakan larangan tersebut.

Hal ini benar-benar serius karena kelestarian Gunung Everest benar-benar terancam. Terbukti bahwa pemerhati lingkungan sudah khawatir kalau polusi di Everest akan mempengaruhi sumber air bersih di lembah-lembah pegunungannya.

 

Larangan Sampah Plastik di Everest: Uang Kembali!

Untuk memancing para pendaki agar lebih tanggung jawab terhadap berbagai sampah yang mereka hasilkan selama pendakian, pemerintah Nepal bahkan menjanjikan deposit uang kembali jika para pendaki bisa menurunkan sampah setidaknya 8 kilogram.

Deposit uang tidak tanggung-tanggung lho – kurang lebih sekitar Rp 56,9 juta akan dikembalikan jika mereka bisa membawa kembali sampah-sampahnya. Tapi sayangnya, hanya sedikit pendaki yang bisa memenuhi hal tersebut.

 

Larangan Sampah Plastik di Everest: Gletser Mulai Mencair

Tidak hanya sampah plastik saja yang mengakibatkan kelestarian Gunung Everest terancam, para pendaki yang meninggal dan ditinggalkan begitu di saja di jurang-jurang pegunungan juga ikut ambil andil sebagai penyebab gletser di Everest mulai mencair.

Memang pemanasan global juga ikut berpengaruh besar terhadap pencairan gletser, namun sampah plastik serta jenazah para pendaki harusnya menjadi hal yang bisa direlokasi secepat mungkin agar kelestarian Gunung Everest tetap terjaga.

 

Larangan Sampah Plastik di Everest: Mempersulit Izin Pendakian

Salah satu wacana atau rencana para pengelola pendakian di Everest adalah mempersulit izin pendakian dari sisi administrasi keuangan. Saat ini, izin untuk mendaki Gunung Everest setidaknya sudah seharga Rp 156,5 juta per orang.

Mereka, pihak-pihak terkait bahkan mengusulkan kalau biayanya dinaikan setidaknya mencapai Rp 498,2 juta per orangnya. Cukup tinggi ya kenaikannya. Hal ini diharapkan agar banyak pendaki yang berpikir berulang kali sebelum memutuskan untuk mendaftar pendakian ke Gunung Everest.

Selain izin pendakian yang akan dirumitkan – larangan keras soal sampah plastik tetap benar-benar diberlakukan dengan detil dan menyeluruh serta tidak ada terkecuali. Bahkan, bisa jadi menerapkan pemeriksaan barang-barang pendakian sehingga jika ada plastik – bisa diganti dengan wadah yang lain.