Sejarah Gunung Krakatau

Anda mungkin tidak asing lagi dengan kata Krakatau? Krakatau adalah salah satu kepulauan vulkanik yang statusnya masih aktif hingga saat ini. Krakatau ini juga menjadi nama gunung yang di sana (Gunung Krakatau) sebelum akhirnya meledak dan menghilang. Namun, setelahnya, muncul Anak Gunung Krakatau yang menjadi gunung vulkanik berstatus aktif. Bagaimanakah sejarah Gunung Krakatau? Anda patut mengetahuinya terutama jika ingin melakukan pendakian gunung.

Munculnya Gunung Krakatau

Kepulauan Krakatau saat ini terdiri dari 4 pulau, yaitu Pulau Rakata, Pulau Anak Krakatau, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Di Pulau Rakata, terjadi proses dorongan vulkanik dari dalam bumi yang memunculkan gunung, yang dikenal dengan Gunung Rakata. Selanjutnya, muncul 2 gunung lainnya di dalam Gunung Rakata, yaitu Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan. Kedua gunung tersebut kemudian menyatu dengan Gunung Rakata, dan akhirnya menjadi Gunung Krakatau yang melegenda itu.

Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680. Namun, letusan ini hanya menghasilkan lava andesitik asam. Setelah itu, hampir tidak ada lagi aktivitas vulkanis yang berbahaya di Krakatau. Pada 20 Mei 1883, Gunung Krakatau mulai menunjukkan aktivitas vulkanis yang berbeda. Di tanggal tersebut, terjadi ledakan dalam skala kecil di Gunung Krakatau. Ledakan tersebut menjadi pemicu aktivitas-aktivitas vulkanis lainnya, hingga mencapai puncaknya pada Agustus 1883.

Ledakan Besar Gunung Krakatau

Sejarah Gunung Krakatau yang paling diingat adalah ledakan atau erupsi besar yang terjadi pada tahun 1883. Tepatnya, pada Senin, 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dalam skala yang sangat besar dan dahsyat pada pukul 10.20 WIB. Ledakan Gunung Krakatau menjadi sorotan dunia, baik masyarakat maupun ilmuwan. Menurut ilmuwan dari Inggris, Simon Wimchester, letusan Gunung Krakatau adalah peristiwa aktivitas vulkanik dengan ledakan terbesar dan suara terkeras sepanjang sejarah. Diketahui bahwa letusan Krakatau bisa terdengar hingga sekitar radius 4.600 km dan terdengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Letusan Gunung Krakatau mengeluarkan batu apung dan abu vulkanik dengan jumlah hampir 18 km kubik. Semburan abu vulkanisnya sendiri menyebar hingga radius 80 km, bahkan hingga keluar Indonesia, seperti Pakistan, India, Srilanka, Selandia Baru, dan Australia. Letusan ini juga mengakibatkan tsunami hebat yang menewaskan hingga 36.417 korban. Gelombang tsunami ini bahkan bergerak hingga Amerika Serikat.

Munculnya Anak Krakatau

Ledakan hebat tersebut membuat Gunung Krakatau hancur dan menghasilkan sebuah cekungan dengan lebar 7 km dan kedalaman sekitar 250 km. Namun, sejarah Gunung Krakatau tidak berhenti sampai di sana. Setelah 40 tahun pasca meletusnya Gunung Krakatau (pada tahun 1927), dari cekungan hasil dari hancurnya Gunung Krakatau, muncul gunung api baru. Gunung api ini diberi nama Anak Krakatau, yang statusnya masih aktif. Anak Krakatau saat ini dijadikan tempat liburan dan pendakian gunung. Jika anda butuh barang outdoor dan tenda, maka Arei adalah solusi tepat jual tenda yang berkualitas untuk menemani anda di Anak Krakatau.