Slow Travel: Memaknai Liburan Seutuhnya Tanpa Buru-buru

Baru-baru ini telah berkembang tren baru bernama “slow travel” yang mengajak kalangan wisatawan untuk memaknai masa liburan secara utuh. Pelancong yang menganut konsep ini diketahui lebih mengutamakan kualitas pengalaman liburan ketimbang kuantitas tempat wisata yang didatangi. Apa saja keunikan dan keistimewaan dari slow travel?

Situs jejaring sosial kini menjadi salah satu media yang memengaruhi perkembangan industri pariwisata di suatu daerah. Banyak orang tertarik mengunjungi tempat liburan yang sebelumnya telah didatangi influencer ternama. Ketertarikan tersebut bermula saat mereka melihat postingan foto atau video para travel influencer di sosial media.

Dilansir dari ilmuwan dari University of Georgia dikabarkan pernah melakukan riset tentang hubungan media sosial dan tempat wisata. Hasilnya, mereka mendapatkan temuan bahwa pelancong lebih tertarik menyambangi tempat wisata yang viral atau mendapat tanggapan positif berupa like atau komentar di media sosial.

Alhasil, banyak wisatawan muda tertarik mengunjungi tempat wisata dengan tujuan mencari konten untuk media sosial. Semuanya terlihat sibuk mengambil foto atau merekam video tanpa menikmati keunikan tempat yang didatangi. Dampak dari menjamurnya kebiasaan ini adalah berkurangnya interaksi antara pengunjung dengan tempat liburan yang disambangi. Akibatnya, banyak orang tak benar-benar mengenali keunikan suatu tempat wisata meski pernah mendatanginya secara langsung.

 

Meski begitu, saat ini juga telah berkembang tren baru bernama “slow travel” yang mengajak kalangan wisatawan untuk memaknai masa liburan secara utuh. Mereka yang menganut konsep ini diketahui lebih mengutamakan kualitas pengalaman liburan ketimbang kuantitas tempat wisata yang didatangi. Slow travel mengajarkan wisatawan untuk memperbanyak komunikasi dengan masyarakat setempat, memahami budaya lokal, dan menikmati momen traveling sepuasnya di zaman yang bergerak serba cepat ini.

 

Apakah Makna Sebenarnya dari Slow Travel?

Slow travel berbicara tentang pengalaman yang mendalam. Untuk memahami esensi slow travel, wisatawan disarankan menjauhi tempat liburan populer atau destinasi wisata yang digandrungi turis. Selain itu, Areingers juga harus benar-benar menikmati setiap aktivitas yang dilakukan di lokasi tujuan.

Ketika menjalani slow travel, wisatawan akan menghabiskan waktu semaksimal mungkin untuk mengenal segala hal di sekitar. Konsep ini mengajarkan kita pentingnya mencari kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang jauh dari kesan populer atau terkenal. Intinya sih, slow travel lebih menitikberatkan pada kepuasan personal ketimbang hal apa yang disukai banyak orang saat ini.

 

Slow travel juga mengajak wisatawan untuk lebih banyak berinteraksi dengan budaya atau masyarakat di suatu tempat. Proses ini juga dilakukan secara santai tanpa terburu-buru. Konsep slow travel tentu bertentangan dengan kebiasaan sebagian traveller yang hobi mengunjungi tempat sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya.

 

Asal Mula Konsep Slow Travel

Sejarah kelahiran slow travel bermula ketika seorang warga negara Italia bernama Carlo Petrini menciptakan gerakan “slow food”. Gerakan tersebut didirikan Petrini sebagai bentuk protesnya terhadap pembukaan restoran McDonald di tahun 1986. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini perlahan berubah menjadi subkultur hingga akhirnya terciptalah slow travel.

Slow travel sebenarnya bukan mengacu pada kecepatan seseorang saat melakukan perjalanan wisata. Konsep ini mengajak pelancong untuk memandang hal dari sudut pandang berbeda. Slow travel mengajarkan Areingers untuk tidak tergesa-gesa dalam menjelajahi tempat wisata sehingga mampu terhubung dengan masyarakat atau budaya lingkungan sekitar.

 

Cara Menjalani Konsep Liburan Slow Travel

Banyak hal positif yang bisa Areingers dapat ketika menerapkan konsep ini. Contohnya seperti tidak terlalu lelah karena waktu liburan dinikmati secara santai, hemat biaya liburan, serta terbebas dari penat. Mantap sekali deh! Nah, pertanyaannya adalah bagaimana cara menerapkan slow travel? Bersumber dari tabloidpulsa.co.id, berikut adalah 3 cara mudahnya.

 

1. Tidak Sungkan Memulai Percakapan dengan Masyarakat Setempat

Saat kesulitan mencari lokasi tempat wisata, sebagian besar pelancong mungkin lebih sering mengandalkan teknologi canggih ketimbang meminta bantuan ke warga lokal. Salah satu contoh aplikasi yang kerap digunakan wisatawan saat traveling adalah google maps. Kehadiran aplikasi ini sebenarnya membatasi peluang Areingers untuk terhubung dengan warga sekitar secara langsung.

Oleh sebab itu, mulailah perbanyak interaksi dengan warga lokal agar mendapat pengalaman liburan yang memuaskan. Areingers bisa meminta rekomendasi mereka seputar tempat makan enak dan murah di sekitar destinasi wisata. Jangan lupa juga untuk belajar menguasai bahasa lokal agar interaksi berjalan lancar.

 

2. Sebisa Mungkin Tidak Mendatangi Tempat Wisata Populer

Penganut konsep slow travel biasanya tidak terlalu memedulikan tempat mana yang dianggap keren atau populer. Jadi, cobalah sebisa mungkin untuk tidak terpaku pada kuantitas tempat yang dikunjungi dan berfokus pada pengalaman liburan. Untuk mewujudkan itu, Areingers sebaiknya mendatangi tempat liburan anti-mainstream agar dapat mudah terhubung dengan lingkungan sana.

Saat mendatangi tempat liburan yang tidak populer, wisatawan berkesempatan mengenal budaya masyarakat setempat secara lebih mudah. Areingers juga bisa memelajari sejarah serta menikmati kekayaan alam di sana dalam kondisi tenang. Dengan demikian, pikiran Areingers bakal teralihkan dari stres dan penat.

 

3. Berani Menjajal Pengalaman Baru

Sebagian besar orang mungkin menaruh harapan besar pada suatu tempat wisata usai melihat foto atau video seputar daerah tersebut di media sosial. Jika tertarik mencoba slow travel, Areingers sebaiknya berhenti menyimpan ekspektasi berlebihan soal tempat yang ingin didatangi. Cobalah segala hal baru yang bisa membuat pengalaman berlibur terasa lebih berkesan.